Dear diary, hari ini aku ingin berbagi kisah. 1000 kisah
sederhana yang pernah ku lewati, dulu. Saat aku masih bermimpi menggapai bulan,
pada saat itu aku masih merasakan kasih sayang mu yang begitu tulus. Setiap
detik, setiap waktu kita lalui bersama. Dengan suka cita, dengan canda tawa,
dengan penuh keceriaan kemudian melukiskan sebuah kenangan dan senyum indah
yang tersirat pada bibir ini.
Perlahan…
Mimpiku untuk menggapai bulan mulai pudar. Layaknya kasih
sayang kepadamu. Perlahan, namun tak pasti. Menunggu sesuatu dan waktu untuk
aku mengutarakannya semua. Kamu? Tidak begitu.
Hingga saat ini, mimpiku untuk menggapai bulan telah hilang.
Termakan oleh zaman. Sama betul dengan
perasaanku kepadamu yang lambat laun mulai hilang. Semua telah berujung pada
waktunya. Waktu disaat aku harus menggoreskan tinta baru untuk dunia baru, dalam hidupku.
Kini engkau benar-benar telah pergi. Terpisah oleh beribu-ribu, bahkan jutaan bata merah
yang membatasi jarak antara kita.
Sekarang aku sadar, setiap pertemuan selalu ada perpisahan.
Jika memang benar begitu, mengapa kita harus dipertemukan jika kita juga
dipisahkan?
Dan ternyata, engkau lah sang bulan yang tak pernah ku
gapai.






0 komentar:
Posting Komentar