Feeds RSS

Minggu, 19 Agustus 2012

KITA

Pecahkan saja gelasnya, agar tak ada yang bisa mengisi kekosongan itu.

Atau kita bunuh saja waktu, agar berhenti disaat kita sudah bersatu supaya kita tak akan terpisahkan.

 Janganlah kau bermuramdurja, biarkan aku berdiri kokoh disini. Menopang semua derita yang kau beri, kekasih. Hidupmu begitu lancang untuk seorang manusia, keluar masuk begitu saja bagai keset Mushola...

Mungkin aku tak cukup kokoh seperti batu karang, mungkin aku tak cukup tegar seperti daun-daun kering dalam musim semi, namun percayalah, aku bagaikan bintang, walau jauh namun sinarku cukup terang untuk menemanimu.

Beri aku sedikit bisikan nafasmu untuk mengawali hari-hariku. Bisikan aku dentingan suaramu untuk menyemangati hidupku. Dunia sudah goyah, tanpa kita –aku dan kamu-, dunia begitu sepi, tanpa kita –aku dan kamu-. Pancaran sinar kesetiaan dalam bola matamu begitu menyilaukan. Membuat aku mengerti arti cinta yang kau beri. Beri aku salam hangat dari setiap kata yang kau ukir.

Tak butuh untaian kata untuk melukiskan isi hatiku, cukup genggam kedua tanganku.. kau akan menjelajahi sebuah ruang hampa.. tanpa ada yang lain selain kamu, disitulah kamu harusnya berada.. dalam lindungan dan dekapanku...

Ah, untuk apa aku menjelajah kalau akhirnya ditinggalkan? Apa harus aku berdiam diri agar tak ada kejadian yang menyakitkan?

Takkan kau kenali diriku hanya dengan melihat, takkan kau kenali diriku hanya dengan ketulusan dan kelembutan dalam hatimu..  lihatlah aku, jelajahi hatiku, rasakan...  mungkin kau kan kenali diriku dari lubang-lubang hampa dalam hatiku..

Pecahkan saja semuanya.
Hancurkan saja harapannya.
Untuk apa  berlama mencari cinta. Hanya ketidakpastian yang ada. Untuk apa lama bertaham. Hanya kekecewaan yang dilimpahkan. Beguraulah dengan teman sebayamu, kelak kau akan merasakan apa yang kurasakan saat ini. Untuk sebuah pengorbanan yang tak terbalas.

Seekor siputpun akan meninggalkan cangkang apabila ia sudah tak mampu berada didalamnya. Jika tak mungkin bertahan, terbanglah... mungkin tiupan angin akan membawamu menuju dunia baru –tanpa aku-.

Terbang? Apa aku harus terbang bersama segumpal kekecewaan yang kau titipkan padaku? Untuk menjadikan aku manusia tergar bukan? Aku ini wanita yang datang mencari kebahagiaan, bukan sebongkah harapan.
Datanglah! Bila engkau menginginka kita –masih aku dan kamu- untuk kembali bersama.. Pergilah!  Bersama kebahagiaan barumu itu. Aku akan pergi mencari dunia baru tanpa tangis dan air mata.

Kita akan tetap begitu, musim berganti tak akan pernah merubah ukiran indah dalam hati kita.. walau kau telah bersamanya namun akar dari semua itu akan selalu menopang sebongkah pohon besar , walau akar tak pernah terjamah, tertimbun oleh daun-daun baru yang jatuh disekitar pohon.

Hancurkan saja pohonnya. Tumbuhkan pohon yang baru. Pohon yang lebih membuatmu bahagia. Bawalah akar ini kelak untuk pohon baru dalam hidupmu. Hanjurkan saja!! Hancurkan semua kenangan yang terukir didalamnya, aku tak butuh kekecewaan. Sudah cukup kau bermuram durja, tinggal waktu yang menjawab dari semua kerisauan yang ada.

Kau pernah mengisi hari-hariku.. memberi warna dalam hidupku, senyummu membuat bunga bermekaran dalam hatiku, namun... mengapa engkau memilihnya, bukan aku? Aku bukan sebuah berlian, namun bersamamu aku akan tetap abadi menjadi mutiara terang walau berada dalam lumpur.

Kita tak lagi sama. Berbeda untuk menjadi satu. Satu yang patut diperjuangkan. Berikan aku segenggam cahaya, untuk dapat menerangi hidup dari kegelapan yang selama ini kau beri. Cukup! Semua tak lagi sama. Biarkan aku sendiri disini sendiri. Berilah risai pelangi dalam hidupmu agar lebih berwarna, tanpa aku...

Apa tak ada celah dihatimu tuk menerima ku kembali? Apa ini akhir dari caramu untuk mencintaiku? Memberiku secercah cahaya bersama dengan sejuta kekecewaan? Aku bukanlah seorang pujangga, namun bersamamu dapat kurangkai berbagai kata dalam rasa.. Jika kau pergi, aku mungkin hanya seseorang dipersimpangan, akan kau sentuh dan akan kau tinggalkan, karena kau aku akan terus berjalan.

Tanyakan saja pada rumput ditaman, saksi bisu akan cinta kita –hanya aku tepatnya- percayalah, hidupmu lebih baik tanpa aku. Aku hanyalah benalu yang hanya bisa membuatmu malu. Terlalu banyak bualan yang terucap –meski dari bibirmu- biarkan aku menopang semuanya sendiri... Tanpamu...

Kehadiranmu membuatku merasa yakin, bukan untuk melupakanmu, namun tuk terus abadi bersamamu.. Kaulah yang pertama memberi arti luka dalam hidupku, memberi goresan indah dalam hatiku.. Selamanya akan tetap abadi walau dia telah temani aku, bukan ingin melupakanmu.. Namun berhenti menunggu kedatangan pelagi dibawah sinar rembulan.. Ku hanya ingin kau mengerti setitik rasa dalam hati ini..

Pergilah.. Bawalah cintaku sampai kau menemukan kebahagiaan baru. Kelak aku akan tetap menjaga cinta kita, sama seperti saat kau menjagaku, dulu...
Berhentilah! Berhenti untuk mencintaiku. Berikan goresan warna baru dalam lembar hidupmu..

Hidupmu? Percayalah aku sangat ingin menjadi bagian dari hidupmu.. menjadi bagian saat kau bersedih. Walau kau bersamanya, walau dia mencintaimu.. Percayalah, hanya aku yang paling inginkanmu, inginkan kau duduk disini, bersamaku.. Melukis indahnya kebahagiaan kita.

Kau tak kan pernah menjadi bagian dari hidupku.. Berikan aku bahu kekarmu saat aku menjatuhkan air mata, sebab karenamu. Percayalah kasih, cinta kita tetap abadi, sampai nanti :’)









Tertanda,
Elvira Putri  Pembayun & Alia Sufi Fatmawati

0 komentar:

Posting Komentar