Aku sedang bercinta dengan malam. Jemariku
bergemerisik penuh berisik, sampaikan wujud sebuah rasa dari napas yang menyatu
dengan detak jantungku. Tik... Tik... Tik... Terus saja berdetik, selaraskan
dengan detak yang terhentak. Ah, kau... Aku menginginkanmu disini menemani sepi
yang sudah tak lagi bisa kugeneralisasi. Hingga jemariku tak lagi ingin
bisu-ungkapkan segalanya lewat bait-bait kerinduanku.
Berapa lama kita tidak bertemu?
Terpisah oleh jarak dan waktu.
Aku harap kau tak tertawa disana. Tak menganggap
kata-kata ini dusta atau bujuk rayu tipu daya yang biasa dilakukan para wanita
jahat. Tidak! Sungguh tidak seperti itu. Ini benar-benar perasaanku. Perasaan
wanita biasa yang ingin menggapai cinta yang dicitakan ditiap detiknya.
Perasaan wanita biasa yang... Ah, kau tahu, kan?
Apa yang tak kau tahu dariku?
Kurasa enam bulan bukanlah waktu yang
singkat mengenal masing-masing diri kita.
Sebagai teman... Engkau salah satu yang
terbaik yang pernah ada. Engkau yang selalu ada disaat aku membutuhkan seseorang
untuk kuajak bicara. Engkau, yang selalu sabar mendengarkan ceritaku yang tak
lebih daripada sampah. Engkau, yang selalu teguh menjadi tempat bersandarku, di
saat aku lelah atau terjatuh...
Tidak cukupkah semua itu menjadi alasan
mengapa aku mencintaimu?
Kupikir, kau sedang menggelengkan kepala
mengatakan cinta tak semudah itu hadir di jiwa. Lalu, dengan suaramu yang
lantang itu, kau berujar padaku, "Mungkin dia salah memahami apa yang dia
rasakan. Di tidak mencintai En. Di hanya merasa nyaman menjadikan En tempat
persinggahan, tempat pelarian dari cinta Di yang sebelumnya karam. Di masih
mencintainya. Dan, En tidak mau jadi tempat pelarian bagi Di..."
Tidak! Tidak seperti itu. Dia ada dimasa
lalu, hanya masa lalu. Sementara itu, masa lalu tak lebih daripada sebuah mimpi
dan, ketika kubangun, mimpi tinggal kenangan. Dan, kuakui, wanita tak bisa
"menghilangkan" kenangan, apalagi yang pernah membuatnya sakit hati.
Tapi, hanya sebatas itu. Sungguh. Waktu telah meluruhkannya.. Menjadi debu.
Ah, aku tak bisa memaksamu untuk
mencintaiku...
What friendship mean? (Kau pasti terus
bertanya ini).
Persahabatan kita menang sudah terjalin
baik. Aku pernah mendengarmu menangis. Aku pernah mendengarmu marah, benci atau
kesal pada apa yang terjadi dikehidupan sehari-harimu. Aku juga menemanimu
tertawa, bercanda bersama. Sebenarnya itupun cukup bagiku. Malah, lebih dari
cukup jika aku mempunyai seseorang yang bisa kuajak berbagi apa saja (meski
dalam status sahabat). Tapi, kau tahu... Aku tak bisa mengendalikan hati,
apalagi ego kewanitaanku. Ya, aku ingin memilikimu. Aku ingin aku yang
menjagamu... Yang membuatmu tersenyum bahagia. Pepatah bodoh mengatakan cinta
tak harus memiliki. Aku tidak setuju. Kalau cinta, milikilah. Trust that you
are the right woman to be.
En... Kau bukan tipeku (sebenernya). Kau
terlalu baik, aku lebih suka yang biasa-biasa saja. Tapi, kenapa aku
mencintaimu?
Does loving have to have reasons? Somebody
said, I love you because it's you. Another one said, I love you because that
love it is. Then what about me?
Entahlah. Kau ingat saat aku main
kerumahmu. Kau menyuruhku mengambil permen Kiss didalam toples (permen Kiss
yang ada tulisan tertentu dibelakangnya). Pada kesempatan pertama, it said I
love you. Kau yang sudah tau aku menginginkanmu, langsung menyuruhku mengulangnya.
Tetap saja, yang kedua memunculkan kata be my love. Kebetulankan? Atau, memang
alam semesta juga tahu perasaanku dan mengharapkan kita bersatu?
En... Kita satu SMA. Anehnya, kita baru kenal dan dekat akhir-akhir ini.
Pasti kau menggeleng dan bilang,
"wanita juga harus jantan. Jika ingin mengungkapkan perasaan, ya, harus
langsung dihadapan orang yang dicintainya." Lalu, bagaimana mungkin aku
bisa mengungkapkannya secara langsung, apa aku harus datang menemuimu? Agar kau
bisa tatap mataku untuk melihat kesungguhanku? Toh, aku sudah tak tahan
mengungkapkannya. Maka, kutulis saja semua ini. Salah?
Ah, sudah, aku tak mau bersitegang
denganmu. Meski kuakui, waktu-waktuku tampak lebih indah dengan
"bumbu-bumbu" kebersitegangan itu. Sebab, itu waktu kita bersama.
Kita bisa mengingat "kelucuan" kemarahan masing-masing.
Berjanjilah, kau akan tetap tersenyum
setalah membaca semua ini. Dan, apapun itu, kita tetap bersahabat (meski aku
berharap status kita bisa lebih daripada itu). Kau harus tetap semangat, ya,
menjalani hari-hari dengan disiplin. Jangan lupa makan dan jangan tidur larut
malam. Sudah, ah, semoga bisa ketemu nanti. Thanks.
Salamku yang tak pernah habis untukmu,
Elvira putri pembayun






0 komentar:
Posting Komentar