Pertama kali aku mengenalnya saat seminar global warming. Menyukai warna hijau, itulah yang membuat kami saling mengenal. Ya! Memang hanya itu. Bukan karena aku menarik atau menonjol dalam seminar itu. Hijau, warnayang menurut kami sangat unik dan menentramkan hati. Mempertemukan kami dengan cara yang unik juga.
Namanya Alief, aku biasa memanggilnya daun. Seorang pekerja keras, berkemauan tinggi dan pantang menyerah. Sedikit ceroboh tetapi dia sangat hebat, sangat membuatku takjub atas semangat yang tak pernah putus. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi semenjak seminar itu. Tapi kami masih bersilaturahmi.
Sahabatku Yana ternyata tetangga sebelah rumahnya Alief. Aku dan Alief sengaja tak menukarkan nomor handphone. Kami berkomunikasi hanya lewat surat yang dititipkan kepada Yana. Sebenarnya aku malu, dizaman secanggih ini aku masih menggunakan jasa surat yang diantar oleh teman.
Surat yang dibuat Alief terkadang hanya berisi puisi. Aku bukan orang yg puitis, tetapi semenjak berkenalan dengan dengan puisinya, aku tiba-tiba menyukai puisi. Bagiku, puisi adalah hal baru yang layak untuk dicoba.
Dulu aku sangat menyukai sakura. Walaupun kini aku tak begitu menyukainya. Aku tetap menyukai kecantikannya. Kini aku menyukai Flamboyan, pohon berbunga dengan banyak daun. Flamboyan yang katanya adalah tanaman terindah didunia sehingga Bimbo-pun mengabadikannya dalam sebuah lagu.
Aku sangat menyukai bunga. Bunga mempunyai keindahan yang tak bias dilukiskan. Aku merasa diriku seperti Flamboyan yang berguguran. Surat yang baru saja ku dapat dari Yana, membuatku ingin bertemu dengan Alief secepat mungkin. Alief akan pergi, ia berhasil diterima di Universitas yang ia incar selama ini. Tetapi Universitas itu sangat jauh. Melintasi laut, ,melintasi batas Negara dan melintasi benua.
Dengan berbagai penjelasan, akhirnya aku merelakan kepergian Alief. Aku menangis dalam diam ketika melihat punggungnya hilang. Aku sadar waktunya belum tepat tapi masih ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Sesuatu yang membuatku menangis tersedu.
Ini adalah pertama kali aku menginjakkan kai di Icheon International Airport, saat ini pula aku berada di Icheon, Korea Selatan. Au sedang meinkmati pemandangan diluar saat kereta yang kutumpangi berjalan dengan cepat. Secepat pikiranku berkelebat.
Sudah dua bulan aku tinggal di Seoul dan sekarang aku akan menuju Busan. Dalam perjalanan ak kembali teringat kepada pohonku. Sudah lima tahun lebih aku belum bertemu dengannya. Menurut kontrak tak tertulis, kami akan bertemu enam tahun setelah itu.
Bunga Flamboyanku sedang menunggu pohonnya agar selalu hijau. Aku sudah ebrusaha menjadi sisi terbaik tak pernah sempurna, menjadi bunga yang selalu mekar. Alief juga sudah berusaha untuk menjadi pohon yang selalu hijau. Flamboyan yang selalu hijau dengan bunga-bunga yang bermekaran. Kami akan membuat semua orang merasakan hanami bunga Flamboyan.






0 komentar:
Posting Komentar