Dear, ganteng.
Aku menulis surat ini sesaat setelah perpisahan kita. Aku menulis surat ini untuk meyakinkanmu. Aku mengerti, Sayang. Aku mengerti mengapa kau memutuskanku waktu itu. Aku mengerti akan sikapmu yang meninggalkanku dan lebih memilih dia.
Ya... Aku sadar, aku terlalu cantik untukmu. Aku sadar, aku terlalu sempurna bagi kebanyakan orang. Kamu setengah mati mencintaiku sebenarnya, matamu tak dapat berbohong. Aku tahu, betapa berat hatimu saat kau harus menyangkal diri dan berkata kau sangat membenciku.
Aku sadar kenapa. Pastinya, kalau kau menjadi kekasihku, kau akan makan hati, makan jantung, dan makan ampela setiap waktu. Tiap detik, kau akan memantau apa yang aku lakukan. Tiap hari, kau akan memaksaku menceritakan pria-pria yang hari ini aku temui. Tiap minggu, kau pasti mengecek hp-ku dan men-delete semua sms dari pria-pria itu.
Ku dengar, kau sudah bersama yang lain. Mengapa kau lebih memilih dia, sayang? Dia hanya kau jadikan pelarian untuk melupakanku. Dia hanya sesuatu yang kau miliki karena aku terlalu berbahaya untuk kau miliki. Dia hanya menjadi akar karena kau tak mampu mengambil rotan. Kasihanilah dia, Sayangku. Jangan permainkan dia sebagaimana aku mempermainkanmu.
Aku pasti menunggu saat itu, saat kau tak mampu lagi menyangkal diri, menangis dan berlari ke arahku. Akan aku kukatakan pada wanita itu, bahwa kau sangat mencintaiku dan dia adalah wanita paling menderita yang hanya kau jadikan boneka.
Sayangku, tapi aku takut jika kau bertindak terlalu jauh. Jika kau memilih untuk lebih serius bersama dengan "akar" karena "rotan" yang begitu kau cintai sangat berbahaya untuk kau miliki. Itulah pilihanmu dan aku sebagai orang yang begitu kau cintai, tak dapat berbuat banyak atas tindakanmu yang tetap ingin menyangkal diri.
Sayang, jika itu pilihanmu. Jika kau memilih masih ingin menyangkal diri. Lakukanlah! Tapi, jika suatu waktu kau telah lelah untuk membohongi diri sendiri dan ingin kembali padaku, aku akan dengan tegas mengatakan TIDAK padamu! Akan kukembalikan dirimu pada wanita yang telah kau jadikan pelarian itu.
Sekalipun kau meronta.
Sekalipun kau meradang.
Sekalipun kau meminta, berteriak dan menangis darah.
P.S : hanya terinspirasi dari Surat dari Si Ganteng. karya : adhitya mulya
JUST FOR FUN :D
Kamis, 16 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






1 komentar:
coo cweet deh
Posting Komentar